ranIslam di Indonesia ini bahkan memiliki 4 empat tempat yang dipercaya sebagai peristirahatan terakhir Syekh Jumadil Kubro (Syech Jumadil Qubro) yaitu di makam Troloyo berada satu lokasi dengan situs Trowulan Majapahit, Mojokerto, Semarang, Desa Turgo, Merapi, Yogyakarta dan Parang Tritis, Gunung Kidul, Yogjakarta. MakamSyaikh Jumadil Kubro . baca juga: 6 Rekomendasi Wisata Ziarah di Jakarta, Yuk Mampir! Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 4. Makam Syekh Bela Belu . Makam Syekh Bela Belu / aroengbinang. Syekh Bela Belu merupakan putra Raja Brawijaya V. Namun setelah memeluk Islam, Syekh Bela Belu berganti nama menjadi Raden Dhandhun. MakamSyeh Jumadil Kubro Troloyo, Trowulan, Mojokerto Jawa Timur, Mojosari, Jawa Timur, Indonesia. 995 likes · 24 talking about this · 1,426 were here. . Traveling tidak selalu soal senang-senang belaka, ada kalanya traveling justru dapat membuat iman kita semakin kuat. Jenis wisata yang mengedepankan spiritual ini dinamakan dengan wisata religi. Nah selain menziarahi tempat suci, wisata religi juga bisa berbentuk ziarah makam ulama. Jogja merupakan gudangnya’ makam ulama, sehingga Anda bisa menemukan dengan mudah tempat ziarah ulama di Jogja. Banyak orang yang menganggap bahwa makam ulama di Jogja memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi, sehingga layak dikunjungi. Tak hanya untuk urusan spiritual, ziarah ulama ini juga bisa ditujukan untuk urusan dokumentasi atau mengingat perjuangan kaum muslimin di masa lampau. Nah berikut ini kami akan membahas beberapa lokasi ziarah makam ulama terpopuler yang ada di Jogja. Makam Imogiri Tempat ziarah ulama di Jogja terpopuler yang pertama yaitu Makam Imogiri. Mengapa begitu populer? Karena di Makam Imogiri ini terdapat makam-makan Raja Mataram, dimana Kerajaan Mataram sendiri dikenal sebagai kerajaan yang menganut sistem Islam di masa lampau. Makam Imogiri sendiri dibangun atas prakarsa raja terbesar Kerajaan Mataram yaitu Sultan Agung pada abad 16 yang lalu. Lewat arsitek kepercayaan Sultan Agung yaitu Kyai Tumenggung Citrokusumo, komplek makam dibagi kedalam tiga komplek makam yaitu komplek Kasultan Agung, komplek raja-raja Surakarta, dan komplek raja-raja Yogyakarta. Dengan begitu banyaknya makam orang penting disini, Makam Imogiri tidak pernah sepi dari kunjungan pada traveler yang sedang berwisata religi. Daya tarik Makam Imogiri tidak hanya terletak pada makam-makam raja Mataram, namun juga pada desain komplek makamnya. Lewat sentuhan sang arsitek, Makam Imogiri ini didesain dengan sentuhan Islam dan Hindu. Makam Imogiri ini terletak di atas bukit, dimana traveler mesti menaiki 409 anak tangga. Nah Makam Imogiri ini terletak di Kecamatan Imogiri, Yogyakarta. Jika Anda tidak tahu rute menuju Makam Imogiri, sebaiknya Anda memesan paket wisata Jogja agar Anda mendapatkan panduan dan layanan wisata religi yang tepat. Nah komplek makam dibuka setiap hari mulai dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore, lalu dibuka kembali pada jam 8 malam. Dilarang menggunakan pakaian yang tidak sopan di komplek makam dan traveler mesti berlaku sopan. Makam Syekh Maulana Maghribi Bagi Anda yang belum tahu, Syekh Maulana Maghribi merupakan nama asli dari Sunan Gresik. Sunan Gresik sendiri merupakan salah seorang Walisongo yang dikenal sebagai ulama pertama yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Itulah mengapa komplek makam Makam Syekh Maulana Maghribi di Bantul ini selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah ataupun traveler yang sedang berwisata religi. Komplek makam Syekh Maulana Maghribi juga berdekatan dengan Pantai Parangtritis, sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan laut yang sangat indah. Nah komplek makam Sunan Gresik ini berada di atas bukit, sehingga pengunjung mesti menaiki beberapa anak tangga. Setelah sampai di atas, pengunjung bisa menemukan beberapa spot menarik seperti mushola, candi, dan tentunya area makam Sunan Gresik. Komplek Makam Dongkelan Tempat ziarah ulama di Jogja paling terkemuka lainnya yaitu komplek makam Dongkelan. Komplek makam Dongkelan ini terletak di sebelah Masjid Patok Negara Dongkelan Kauman, Bantul. Bagi Anda yang tidak tahu rutenya, sebaiknya menggunakan layanan paket wisata Jogja. Nah komplek makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah, khususnya dari kalangan santri. Terdapat beberapa makam ulama besar disini, yang paling populer yaitu KH. M. Munawir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Munawir. Mbah Munawir sendiri dikenal sebagai ulama besar pada zaman kolonialisme Belanda, dan menjadi tokoh sentral dalam perkembangan Islam di Yogyakarta. Selain makam Mbah Munawir, masih terdapat beberapa makam ulama besar lainnya, sehingga sangat recommended dijadikan tempat wisata religi. Petilasan Syekh Jumadil Kubro Bagi Anda yang belum tahu, Syekh Jumadil Kubro merupakan bapak dari Walisongo. Mengapa disebut bapak dari Walisongo? Karena beberapa Walisongo diyakini merupakan cucunya Syekh Jumadil Kubro. Nah Syekh Jumadil Kubro juga dianggap sebagai penggagas sistem Islam di Pulau Jawa, hingga ia dianggap sebagai tokoh Islam paling penting selain Walisongo di masa lampau. Nah petilasan Syekh Jumadil Kubro terletak di Dusun Turgo, Kaliurang, yang berada di kaki Gunung Merapi. Karena lokasinya lumayan jauh dari keramaian, direkomendasikan agar traveler menggunakan jasa pemandu wisata. Masjid Pathok Negoro Plosokuning Tempat ziarah ulama terpopuler lainnya di Jogja yaitu Masjid Pathok Negoro Plosokuning. Nah Masjid Pathok Negoro Plosokuning dianggap sebagai masjid besar pertama yang ada di Jogja. Masjid ini dibuat oleh Sultan Hamengku Buwono I, sehingga dianggap sebagai pondasi kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Terdapat banyak makam ulama besar disini, sehingga bagi Anda yang sedang wisata religi di Jogja, sebaiknya mengunjungi Masjid Pathok Negoro Plosokuning ini. Nah itulah beberapa tempat ziarah ulama di Jogja yang bisa Anda kunjungi selama masa liburan tiba. Selain dapat meningkatkan spirit keimanan, Anda pun bisa menambah wawasan tentang sejarah Islam di tanah Jogja. Karena tidak sepopuler tempat wisata pada umumnya, sebaiknya Anda menggunakan jasa pemandu saat berwisata religi di Jogja. SEMARANG, - Sebanyak 32 pemilik lapak di Jalan Yos Sudarso, Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jawa Tengah, mengeluh terancam tergusur karena pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak. Koordinator pemilik lapak Syekh Jumadil Kubro Terboyo Kulon, Ahmad Suranto mengatakan, pemilik lapak yang berada di sekitar Makam Syekh Jumadil Kubro sudah diminta untuk tidak buka selama tiga hari. Baca juga Tanah Diserobot dan Rumahnya Digusur, Emak-emak di Kendari Menangis di Kantor BPN Sultra "Teman-teman PKL disuruh off dulu sementara selama 3 hari karena ada pembangunan Tol Semarang-Demak," katanya saat ditemui di lapak miliknya, Kamis 8/6/2023. Dia menjelaskan, sebelumnya para pemilik lapak yang berjualan makanan dan jasa tambal ban di sekitar Makam Syekh Jumadil Kubro ditawari untuk pindah ke Terminal Terboyo Semarang. "Kita menolak kalau dipindah ke Terboyo. Karena sepi," kata dia. Namun, para pemilik lapak tersebut bersedia jika direlokasi di tempat yang masih berdekatan dengan Makam Syekh Jumadil Kubro. Keinginan tersebut telah dia sampaikan ke pemerintah. "Katanya nanti dari kelurahan dan kecamatan akan dianggarkan untuk bangun pusat kuliner di dekat Makam Syekh Jumadil Kubro. Namun masih wacana," paparnya. Menurutnya, banyak warga yang mengandalkan lapak tersebut untuk bekerja dan menghidupi keluarga. Dia berharap, pemerintah bisa adil agar warga Terboyo Kulon juga bisa mendapatkan manfaat. "Kita harapkan keadilan, karena kita orang kecil," imbuh dia. Informasi yang dia dapatkan, warga akan mendapatkan Rp 5 juta jika bersedia direlokasi dari tempat tersebut. Sampai saat ini Suranto masih melakukan komunikasi dengan pihak berwenang soal penggusuran lapak yang sudah dimanfaatkan warga selama puluhan tahun itu. "Iya kita menyadari jika ini memang tanah milik pemerintah. Kita sedang komunikasi dengan pembina kita. Kita mendukung pembangunan pemerintah tapi harapannya kita bisa direlokasi ke tempat yang kita inginkan," ujar dia. Dikonfirmasi terpisah, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto menjelaskan jika kabar penggusuran tersebut masih wacana. Sampai saat ini Pemerintah Kota Semarang belum memutuskan. "Belum kita putuskan," kata Fajar saat ditanya soal rencana penggusuran tersebut. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Riwayat Keluarga Syekh Jumadil Nasab Syekh Jumadil Wafat Guru Syekh Jumadil Kubro Anak-Anak Syekh Jumadil Kubro Perjalanan Dakwah di Daerah Jawa 1 Riwayat Hidup dan Keluarga Lahir Syekh Jumadil Kubro adalah salah seorang Ulama yang memiliki karomah cukup besar. Beliau adalah seorang yang mempunyai garis keturunan cukup dekat dari Rasulullah SAW. Beliau lahir pada tahun 1349 M di kota Samarkhand, dekat kota Bukhoro, wilayah Negara Azarbaijan. Nama lahir beliau Husain Jamaluddin Akbar Riwayat Keluarga Syekh Jumadil Kubro Beliau menikah dengan wanita dari Samarkand dan dikaruniai tiga orang putra Ibrahim Asmoroqondi/ As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy Ali Nurul Alam Barakat Zainul Alam Nasab Syekh Jumadil Kubro Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib Al-Imam Al-Husain Al-Imam Ali Zainal Abidin Al-Imam Muhammad Al-Baqir Al-Imam Ja’far Shadiq Al-Imam Ali Al-Uraidhi Al-Imam Muhammad An-Naqib Al-Imam Isa Ar-Rumi Al-Imam Ahmad Al-Muhajir As-Sayyid Ubaidillah As-Sayyid Alwi As-Sayyid Muhammad As-Sayyid Alwi As-Sayyid Ali Khali’ Qasam As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath As-Sayyid Alwi Ammil Faqih As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan As-Sayyid Abdullah As-Sayyid Ahmad Jalaluddin As-Sayyid Husain Jamaluddin Al-Akbar Wafat Syekh Jumadil Kubro wafat pada 15 Muharram 857 H/ 1465 M beliau wafat berusia 116 tahun, dan dimakamkan di desa Troloyo Mojokerto. 2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Syekh Jumadil Kubro Beliau dididik dan dibesarkan oleh ayahanda Sayyid Ahmad Jalaludin. Guru Syekh Jumadil Kubro Sayyid Ahmad Jalaludin. 3 Penerus Syekh Jumadil Kubro Anak-anak Syekh Jumadil Kubro Ibrahim Asmoroqondi/ As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy Ali Nurul Alam Barakat Zainul Alam 4. Perjalanan Dakwah Syekh Jumadil Kubro Perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro dipenuhi berbagai liku-liku. Secara umum perjalanan Syekh Jumadil Kubro dapat dijelaskan sebagai berikut Perjalanan Dakwah di Daerah Jawa Di Turki beliau beserta keluarga dan rombongan mendapat tugas dari Sultan Turki yaitu Sultan Mahmud 1. Untuk berangkat ke Jawa Dwipa untuk melakukan misi kenegaraan sekaligus misi dakwah. Dalam perjalanan tersebut yang berangkat menuju ke Jawa Dwipa adalah Syekh Jumadil Kubro Syekh Ibrahim Asmoroqondi Syekh Jumadil Kubro Syekh Zainal Barakat Alam Syekh Jumadil Kubro Syekh Ali Nurul Alam Syekh Jumadil Kubro Syekh Maulana Malik Ibrahim Syekh Subakir Syekh Ali Akbar Syekh Maulana Maghribi Syekh Hasanudin Syekh Aliyudin Syekh Malik Israil Dalam perjalanan menuju Jawa rombongan mampir di daerah Pasai. Dan di sanalah beliau berpisah dengan Syekh Ibrahim Asmoroqondi yang memutuskan untuk menetap dan berdakwah di Pasai. Pada tahun 1399 Rombongan dari Turki telah tiba di awa. Mereka menuju daratan Tandhes, sebuah pelabuhan terbesar di Jawa kala itu. Selepas turun dari kapal, para utusan Turki beristirahat sejenak melepas lelah. Kemudian perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Trowulan. Sesampai disana mereka merasa terhibur , ternyata di Trowulan juga telah ada sekelompok masyarakat Muslim. Bukan muslim asing seperti mereka, tapi muslim pribumi. Di istana rombongan disambut dengan baik oleh Baginda Prabu Wikrama Wardhana. Dijamu dengan kehormatan layaknya utusan dari Negara jauh. Dakwah Mereka untuk mengislamkan Prabu Wikramawardhana belum berhasil, akan tetapi mereka dipersilahkan untuk melakukan dakwah asal tidak melakukan cara pemaksaan dan kekerasan. Para ulama dari mancanegara itu pun akhirnya menyusun rencana lain, berdakwah dengan cara mereka sendiri-sendiri. Setelah dilakukan musyawarah akhirnya diputuskan sebagai berikut Syekh Jumadil Kubro dan kedua putranya Ali dan Zainal memutuskan tinggal dan berdakwah di Trowulan. Syekh Maulana Malik Ibrahim Memutuskan untuk tinggal dan berdakwah di daerah Tandhes. Syekh Malilk Israil, Syekh Hasanudin, dan Syekh Aliyudin memutuskan untuk tinggal dan berdakwah di daerah Banten. Syekh Maulana Maghribi, Syekh Subakir, dan Syekh Ali Akbar Memutuskan untuk tinggal dan berdakwah di daerah Jung Mara Jung Mara adalah nama lama bagi pelabuhan Jepara. Di Trowulan. Syekh Jumadil Kubro memulai kehidupan baru sebagai pedagang, bersama dua putranya. Tidak ada kesulitan bagi beliau untuk mencari barang dagangan lantaran di daerah Tandhes banyak dijumpai para pedagang muslim dari mancanegara yang siap membantu mereka. Kegiatan dakwah pun berjalan lancar, selancar usaha dagangnya. Komunitas muslim pun kian tertata meskipun jumlahnya tidak seberapa. Awal perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro juga mengalami kesulitan. Akhirnya beliau berkenalan dengan Tumenggung Mojopahit yang bernama Tumenggung Satim Singomoyo. Karena hanya beliaulah seorang pejabat kerajaan yang bisa diajak musyawarah tentang kesulitannya di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Kala itu beliau sudah memeluk agama Islam walaupun hal ini tidak berani dilakukan secara terang-terangan. Hanya Tumenggung Satim Singomoyo lah yang bisa diajak bertukar pendapat tentang bagaimana cara mengembangkan ajaran Islam ditanah Jawa utamanya di lingkungan kerajaan yang masyarakatnya kala itu sudah sangat terpengaruh dengan ajaran Hindu dan Budha. Alhamdulillah, dengan keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo, akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat Mojopahit memeluk Islam, termasuk yang berada di lingkungan kerajaan. Dari informasi Tumenggung Satim Singomoyo Inilah Syekh Jumadil Kubro bisa mengerti lebih jauh tentang adat istiadat dan budaya masyarakat di daerah Trowulan. Setelah wafatnya Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk sekitar abad 14 mulai surut pamor dan kejayaan Majapahit. Perang saudara antara Wikramawardhana dengan Wirabumi mengakibatkan melemahnya kendali pusat pemerintahan kerajaan Majapahit. Penduduk Majapahit terutama dari Kasta Sudra dan Waisya golongan masyarakat buruh dan petani yang selama ini menempati derajat rendah dan hina mulai mengalami pembangkangan dan pemberontakan. Mereka merasa tidak dapat menerima adanya perbedaan derajat manusia. Kondisi yang demikian ini sangat menguntungkan bagi penyebaran agama Islam yang mengajarkan persamaan harkat, martabat dan derajat manusia. Ajaran ini menjadi berkembang, utamanya dikalangan masyarakat petani, nelayan, buruh dan pegawai kerajaan. Keadaan di sekitar pusat kerajaan Majapahit semakin lama semakin memprihatinkan, baik akibat terjadinya perang saudara maupun akibat sering terjadinya perselisihan diantara pegawai kerajaan yang sudah memeluk Islam dan pegawai kerajaan yang masih beragama Hindu. Situasi ini ternyata membawa manfaat yang cukup besar bagi Syekh Jumadil Kubro, penampilan yang sejuk tutur bicara yang santun ketika beliau beranjangsana ke keluarga kerajaan menjumpai Dewi Dwarawati Darawati Murdaningrum ternyata dapat membawa ketentraman di hati Prabu Kertawijaya. Hingga suatu saat, Dewi Dwarawati menyampaikan usul pada Prabu Majapahit atas saran pandangan Syekh Jumadil Kubro supaya Prabu Majapahit mengundang seorang tokoh yang dianggap mampu menentramkan situasi kerajaan yang sedang dilanda kekacauan itu. Perlahan tapi pasti, masyarakat kelas bawah mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam, mengikuti ajaran Syekh Jumadil Kubro yang dengan bijak dan santun menyampaikan misi dalam dakwahnya. Syekh Jumadil Kubro memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan agama Islam. Bahkan usianya yang sudah lebih dari seratus tahun belum pernah surut perjuangannya. Dalam usia yang sangat tua itu Sayyid Jumadil Kubro punya niat ingin mati syahid. Dengan niatnya yang baik itu Sayyid Jumadil Kubro bersemedi empat puluh hari memohon kepada Allah semoga akhir hayatnya dijadikan orang yang mati syahid. Pada tahun 1465 M Wali Songo sedang membangun Masjid Demak, sedangkan kerajaan Majapahit mengadakan rapat mendadak. Semua Adipati hadir, kecuali Raden Patah, atas usulan Adipati yang beragama Hindu, Raden Patah harus dipanggil dan diadili karena tidak mentaati peraturan kerajaan Majapahit. Dengan semangat para Adipati yang beragama Hindu berangkat ke Demak bertujuan memanggil paksa Raden Patah. Namun setelah di Demak, para Adipati tersebut ditemui oleh Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi. Setelah para Adipati menyampaikan tujuannya memanggil paksa Raden Patah, dengan nada keras Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi mengusir para Adipati yang punya niat buruk itu. Sehingga terjadilah pertempuran yang akhirnya para Adipati mundur kembali ke Mojopahit. Setelah itu, Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi beserta para santri berangkat ke Majapahit, tujuannya memerangi para Adipati yang masih beragama Hindu itu. Setibanya di Majapahit terjadilah peperangan yang sangat dahsyat sehingga banyak Adipati yang gugur. Namun sudah menjadi niat Syekh Jumadil Kubro ingin mati syahid, maka saat itu juga Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi juga gugur di medan peperangan. Dan tempat terjadinya peperangan di desa Troloyo pada tanggal 15 Muharram 857 H. Adapun Sayyid Jumadil Kubro dimakamkan di desa Troloyo, dan beliau wafat berusia 116 tahun. Sedangkan Maulana Maghribi oleh para santrinya dimakamkan di Jatianom Klaten Jawa Tengah di pesantrennya. 5 Keteladanan Syekh Jumadil Kubro Syekh Jumadil Kubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai abad dan cerita rakyat sebagai salah satu pelopor penyebaran Islam di Jawa. Bisa dikatakan kakeknya Walisongo. Syekh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi di tanah jawa yang hidup sebelum Walisongo yang mampu menembus dinding kebesaran kerajaan Majapahit. Beliau juga berdakwah bersama para ulama-ulama lain dan mempunyai modal tersendiri untuk menyebarkan agama. Beliau umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, tapi berasal dari Asia Tengah. Syekh Jumadil Kubro menjadi tokoh kunci dalam penyebaran Islam di Jawa. Beliau datang dari Samarkand Uzbekistan melalui laut ke jawa atau orang-orang Islamis yang tetap kuat dalam agama Hindu pada masa pemerintahan Majapahit. Syekh Jumadil Kubro kemudian tinggal di Jawa. Syekh Jumadil Kubro memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan agama Islam. Bahkan usianya yang sudah lebih dari seratus tahun belum pernah surut perjuangannya Syekh Jumadil Kubro untuk terus melakukan dakwah. Awal dimulai dakwah dengan cara berdagang. Tidak ada kesulitan bagi beliau untuk mencari barang dagangan lantaran di daerah Tandhes banyak dijumpai para pedagang muslim dari mancanegara yang siap membantu mereka. Kegiatan dakwah pun berjalan lancar, selancar usaha dagangnya. Komunitas muslim pun kian tertata meskipun jumlahnya tidak seberapa. Penampilan yang sejuk tutur bicara yang santun ketika beliau menyampaikan dakwah hingga beliau dianggap tokoh yang dianggap mampu menentramkan situasi kerajaan Majapahit yang sedang dilanda kekacauan pada waktu itu. Perlahan tapi pasti, masyarakat kelas bawah mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam, mengikuti ajaran Syekh Jumadil Kubro yang dengan bijak dan santun menyampaikan misi dalam dakwahnya. 6 Referensi Buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Buku Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Agus Sunyoto, Jakarta Transpustaka, 2011 Babad Wali Songo, Yudhi AW,2013 Sejarah Wali Sanga, Purwadi, Dakwah Wali Songo, Purwadi dan Enis Niken, Babad Wali Songo, Yudhi AW,2013 Mukarrom, Akhwan. Sejarah Islam Indonesia I. Surabaya Uin Sunan Ampel, 2014. Syekh Jumadil Qubro dipercaya sebagai salah satu ulama yang menyebarkan agama Islam di Nusantara. Mojok melakukan ziarah ke kaki Gunung Merapi, tepatnya di puncak Bukit Turgo yang dipercaya sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir.***“Lekasana seka lor,” pesan itu sudah sangat sering saya terima dari orang-orang dengan berbagai latar belakang. Pesan ini berkaitan dengan perjalanan saya menelusuri makam-makam kuno di Jogja di waktu belakangan. Mulailah dari utara, begitu semesta Jogja, utara berarti Merapi, salah satu unsur penting di garis imajiner Jogja. Sementara dalam semesta penggemar ziarah, utamanya makam kuno dan makam ulama, utara merujuk ke salah satu bukit di selatan Merapi. Sebuah bukit yang konon melindungi daerah Turi dan sekitarnya dari aliran lahar demikian nama bukit dengan elevasi sekira mdpl ini. Area bukit berisi vegetasi hutan yang pengelolaannya berada di tangan PT Perhutani. Di puncak bukit, terdapat sebuah makam, sebagian lainnya menyebut petilasan, dari seorang tokoh ulama besar di tanah Jawa Syekh Jumadil Qubro.***Cerah puncak Merapi beserta dua bukit di sisi selatan, Turgo dan Plawangan, menyapa tatkala saya melintas jalan raya Turi-Pakem. Namun, mendung tiba ketika saya sudah dekat dengan tujuan. Puncak Merapi samar adanya, tertutup kabut. Di sebuah warung kecil saya berhenti dan memarkirkan motor sebelum masuk ke area berjalan 100 meter, anak tangga menyambut. Ini adalah bangunan baru. Dulunya, jalan naik menuju petilasan adalah jalanan tanah khas medan pegunungan. Peziarah harus menapaki jalanan tanah dengan kemiringan beragam, bahkan bisa lebih dari 45⁰. Di beberapa lokasi, dulunya dipasangi tambang untuk memudahkan peziarah mendaki sang mubaligSemua raja Mataram Islam di masa lalu tentu saja orang asli Jawa, dengan nama khas Jawa. Namun, jika silsilah itu dirunut hingga ke atas, alur silsilah akan bercampur dengan nama-nama raja Majapahit dan nama-nama khas timur tengah dengan gelar Syekh’. Salah satu nama di bagian atas garis silsilah adalah Syekh Maulana Magribi. Ketika nama satu ini dirunut lebih ke atas lagi, akan ditemukan nama Syekh Jumadil Qubro atau Syekh Jumadil Kubro. Nama ini, konon, merupakan sesepuh dari Wali Sanga, tokoh penyebar Islam paling kondang dalam sejarah Jawa pasca-Majapahit. Saya bilang konon, sebab nama ini belum terlalu terang garis menuju petilasan Syekh Jumadil Qubro. Syaeful Cahyadi/ hikayat tentang Syekh Jumadil Qubro tidak terlepas dari aneka makam dengan nama serupa di Semarang, Jawa Tengah dan di Mojokerto, Jawa Timur. Sementara bangunan di puncak Bukit Turgo ini, sebagian orang mempercayainya sebagai makam, sebagian lain percaya ini hanya petilasan. “Tapi pasti cuma petilasan,” seorang pria yang mendaki bersama saya berpendapat. “Coba, dulu siapa yang memakamkannya wong lokasinya di puncak gunung begini,” demikian alasan pria tadi. Logikanya masuk akal memang, orang modern kebanyakan juga mungkin akan berpikiran serupa. Namun, kisah-kisah tokoh silam toh tidak semuanya masuk akal jika Ahmad Muwafiq atau biasa dikenal dengan nama Gus Muwafiq adalah tokoh agama yang percaya bahwa makam yang ada di Bukit Turgo memang makamnya Syekh Jumadil Qubro. Dalam sebuah tayangan di channel YouTube, ia menyebutkan orang-orang dulu menjadikan gunung untuk menepi. Ia meyakini bahwa makam di Turgo, di kaki Gunung Merapi yang masuk wilayah DIY. “Zaman Rasulullah ada Ka’bah, tetapi beliau menepi di Gua Hira, jadi gunung bagi orang dulu itu sebagai tempat bermunajat kepada Allah SWT,” katanya. Nama Syekh Jumadil Qubro bisa ditemukan di silsilah Syekh Maulana Magribi sebagai kakek dari mubalig dengan makam di Mancingan, Parangtritis ini. Silsilah tersebut disusun pihak Kraton di silsilah Kyai Nur Iman- masih disusun Kraton Yogyakarta – ada nama Sayidina Ibrohim Asmoro dengan nama lain Zinal Akbar Jumadil Qubro. Ia ditulis sebagai keturunan ke-21 Nabi Muhammad dan kelak beranak Sunan Ampel serta punya keturunan Sultan Trenggono, raja ketiga Babad Tanah Jawi Olthof, 2017, disebut nama Makdum Brahim Asmara, seseorang yang berasal dari Campa sekitar Vietnam sekarang dan kelak beranak Raden Rahmat serta Raden Santri. Kata makdum bukanlah nama, melainkan sebutan bagi penyiar agama. Kedua putranya ini suatu kali izin ke sang ayah untuk berkunjung ke pamannya yang jadi raja di Majapahit Rahmat kelak menikah dengan Gede Manila, anak Tumenggung Wila Tikta. Nama Tumenggung ini juga ada di silsilah Maulana Magribi dan disebut sebagai bupati Tuban. Kelak, sosok ini akan beranak Raden Mas Said atau Sunan jika merujuk ke Babad Tanah Jawi, andai Makdum Brahim Asmara adalah Syekh Jumadil Qubro, ada hubungan antara ulama satu ini dengan penguasa Majapahit yang disebut sebagai paman’.Kebalikan dengan Babad Tanah Jawi, Raffles dalam History of Java menulis nama Syeik Mulana Jumadil Kubra sebagai pengikut Raden Rachmad, anak ulama Arab yang menikah dengan salah satu putri raja Champa. Jumadil Kubra versi Raffles disebut telah menetap lama di Gunung Jati ketika Raden Rachmad mengunjungi Jawa. Kejadian ini bertarikh sekitar tahun 1334 Jawa sekitar 1409 Masehi.Tempat yang disebut sebagai makam Syekh Jumadil Qubro di Bukit Turgo. Syaeful Cahyadi/ Raffles juga menulis nama ini dengan ini sebutan Sunan Agum, salah satu dari 8 penyebar agama yang menemani Raden Patah kembali ke Demak selepas upacara pemakaman Sunan Ampel. Mereka juga disebut membantu pembangunan masjid pada tangga terus saya titi, perlahan. Terkadang ditemani nafas tersengal. Menjelang puncak, ada satu aula kecil dengan atap terpal. Dari sana, anak tangga akan kian terjal sebelum sampai di area ini sekilas lebih tampak seperti sebuah tugu. Bangunannya terbuat dari keramik berwarna hitam di bagian bawah dan bagian atasnya berwarna putih dengan ukuran sekitar 2,5 X 1,5 meter. Petilasan ini dibangun lewat sumbangan seorang peziarah, setidaknya itu bisa ditemukan lewat plakat di bagian bawah petilasan dan tulisan di ini baru adanya, hasil renovasi jua. Dulunya, petilasan ini berbentuk bangunan kotak berlapis keramik putih dengan tirai kain putih di sekelilingnya. Satu hal pasti, jika cuaca cerah, petilasan ini akan berlatar belakang Gunung Merapi. Siapapun salat, berdoa, atau sekadar duduk-duduk di sini, ia akan dinaungi Eyang Kunci yang telah pergiNasihat agar saya memulai ziarah dari utara agaknya bukan hal aneh jika merujuk ke silsilah Syekh Jumadil Qubro. Nama ini jauh lebih tua dibanding raja-raja dan ulama-ulama Jawa pasca-Majapahit. Jika Sunan Ampel saja sudah ada sejak masa Majapahit, artinya syekh legendaris ini juga sudah ada sejak masa kerajaan yang sisi lain, menggali informasi soal Syekh Jumadil Qubro dari warga sekitar Turgo juga tidaklah mudah. Ketika turun dari puncak, saya berbincang dengan seorang warga penjual kopi. Darinya, saya tahu jika petilasan ini punya 2 jalan naik. “Satu jalan lain lewat Alas Bingungan, tidak disarankan lewat sana karena masih berupa hutan dan orang sering tersesat dan dibuat bingung.” Bahkan, pria itu menjelaskan, warga sekitar pun menghindari naik ke bukit lewat hutan itu. Jalan via Alas Bingungan inilah yang akan ditunjukkan aplikasi Google Maps jika memasukkan kata kunci “Makam Syekh Jumadil Qubro”.Saat saya bertanya keberadaan juru kunci, pria itu menunjukkan sebuah bekas rumah di dekat jalan masuk ke hutan. Bangunan itu tinggal menyisakan tembok semata dan dikelilingi ilalang liar.“Itu dulu rumahnya juru kunci petilasan, tapi beliau sudah meninggal terkena wedhus gembel tahun 1994,” terangnya. Kini, petilasan ini tidak punya juru kunci sama atau ada yang menyebut sebagai petilasan Syekh Jumadil Qubro di Turgo yang jadi tempat ziarah. Syaeful Cahyadi/ petilasan, Bukit Turgo juga sering dimanfaatkan pelaku spiritual untuk melakoni lelaku tertentu. Tempat yang digunakan adalah 3 goa peninggalan Jepang. Salah satu goa ini berada di tepi tangga menuju petilasan. Tampak beberapa benda seperti botol air dan wadah bekas minuman, tanda bahwa goa ini sering dijamah tadi juga berkisah, hampir tidak ada ziarah rutin dari warga sekitar di makam Syekh Jumadil Qubro. Acara merti dusun misalnya, lebih tertuju pada berbagai mata air di sekitar Bukit Turgo dibanding petilasan ini.***“Lekasana seka lor,” dan kata-kata itu terus terngiang di kepala saya. Bukit sudah saya daki, arah utara telah saya datangi. Kisah soal Jumadil Qubro atau Brahim Asmoro tetap saja abu-abu bagi saya. Warga dan pemerhati sejarah boleh saja bilang tempat di puncak Turgo ini hanyalah petilasan. Namun, itu tetap tidak menyurutkan magnet yang menarik banyak peziarah datang ke puncak bukit di tepi kali Boyong ini.“Mugi berkah njih,” demikian ucap seorang pria yang berpapas dengan saya ketika turun. Apapun itu, utara sudah saya ziarahi dan doa sederhana telah saya panjatkan berteman kabut gunung. Petualangan saya belum berakhir. Masih ada aneka makam kuno dengan kelindan kisahnya bersinggungan dengan Syekh Jumadil Qubro yang siap saya ziarahi di waktu Syaeful Cahyadi Editor Agung PurwandonoBACA JUGA Rasanya Tinggal Bersama Makam-makam Tua di Njeron Beteng Keraton JogjaTerakhir diperbarui pada 18 November 2022 oleh Agung Purwandono

makam syekh jumadil kubro jogja